Posted by: Grace Paramita | April 9, 2011

Bunga diatas pusara

Aku berdiri tegak didepan sebuah pusara yang kutau betul namanya
Tanah itunsudah mengereing dan bunga itu sudah layu
Airmata yang bertaburan diatasnya sudah tertumpah Lima tahun yang lalu
Ia sudah pergi dan tidak mungkin kembali

Lelaki itu juga berdiri dihadapanku sambil sesekali menggelengkan kepalanha, ucapann doanya tidak berhenti keluar dari mulutnya tetapi tidak ada yang berubah dari situ

Ia berusaha memaafkan dirinya , kekeresan hatinya, keegoisan dirinya , ia peernah beresalah tetapi ego nya melarang untuk mengakui dan begitulah memang seharusnya laki laki sejati , itunyang ada dikelapalanya sekian tahun yang lalu.

Surga berkendak lain, kesedihan wanita itu membawanya beerpindah kealam lain, alam yang menjanjikan kebahagian abadi dan ia mendapatkannya.

Sesudah Lima thaun ia beerjuang dengan kebahagiannya akhirnya ia mendapatkan kebahagiaan yang lain, dan sekarang sudah Lima tahun lewat ia berbahagia di kebahagiaan abadi.

Lelaki itu sudah tak bisa lagi menyesal, semua sudah diakhiri oleh alam dan bukan kendalinya lagi, ia hanya bisa berdiam dan beerdoa semoga wanita itu mau memaafkan kekeran hatinya.

Dalam siluet tanpa warna wanita itu memandang laki laki yang pernah mengisi hidupmya dan ia hanya bisa meniupkan angin untuk memberitahukan kehadirannya disitulah dan terima kasihnya atas bunga diatas pusaranya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: