Posted by: Grace Paramita | January 20, 2011

Grace Paramita – Icon Dsari Magazine

Grace Paramita Wiroreno

JAGAD LELAKI, NOVEL, DAN MEDITASI

…di dunia ini uang nggak bisa dijadikan patokan bahagia. Materi tidak menjamin akan jiwa-jiwa yang bebas dan bahagia, mengepakkan sayap ke manapun. Karena bahagia itu bagaimana kita melihat dan menjalankan kehidupan, menikmati semua yang kita jalani dengan senyum. Mungkin itu kebahagiaan yang hakiki…

Demikian sepenggal curhatan Grace Paramita Wiroreno dalam blog pribadinya. Di blog itulah sejak tahun 2006 lalu ia mulai aktif menuliskan apa pun yang memenuhi isi kepalanya. Dari puisi cinta, masalah anak, sampai hasil rumpian dengan ibu-ibu. Namun siapa sangka, penggalan-penggalan curhatannya itu kemudian menginspirasinya untuk menulis sebuah novel.

Tunggu, siapa gerangan Grace Paramita Wiroreno ini? Noveliskah? Grace, begitu Ia akrab disapa, adalah seorang Head of Corporate Relations and Communication
PT. Medco Power Indonesia. Sebelumnya Grace mengemban tugas sebagai General Manager PT. Medco Gajendra Power Services yang juga anak perusahaan PT. Medco Power Indonesia. Sebuah perusahaan yang menangani operasional dan perawatan pembangkit listrik, sebuah dunia kerja yang notabene dikuasai kaum laki-laki.

Saat d’sari Magz menemui Grace di rumahnya nan asri di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sungguh tak menyangka jika perempuan anggun ini begitu lekat dengan dunia laki-laki. Sosoknya tinggi semampai, luwes, aura keceriaan selalu terpancar dari wajahnya. Grace pun bercerita asal muasal ia hingga berkecimpung di dunianya para lelaki ini. Bermula antara tahun 1994-1995 ketika ia magang di perusahaan kontraktor teknik di Jakarta, posisinya sebagai staf pemasaran membuatnya memiliki jaringan luas di bisnis energi listrik. Dari BUMN bidang energi, instalasi pemerintah, hingga perusahaan energi multinasional. Di bidang ini pula perempuan berkacamata ini bertemu dengan pasangan hidupnya Didi Wiroreno.

Beberapa tahun Grace sempat mundur dari dunia ini untuk mengambil gelar administrasi bisnis dari IBMEC Singapura. Menempuh berbagai kursus pendek di bidang riset pemasaran dan bahasa Inggris untuk bisnis di San Diego, Amerika Serikat. Sempat tinggal dan melahirkan buah hatinya di Kuala Lumpur dan Singapura. Absennya Grace selama beberapa waktu dari pekerjaan karena ingin berkonsentrasi penuh mengurus putra putrinya, Dandy Syailendra Wiroreno (10 tahun) dan Anggita Ayodya Wiroreno (7 tahun). Hingga tiba di tahun 2007, Grace merasa terpanggil untuk kembali bekerja. Jadilah, berkat jaringan yang sudah terbangun sejak lama, ia masuk lagi ke jagad lelaki. “Bagi saya bekerja di lingkungan laki-laki seperti sekarang adalah suatu tantangan. Memacu adrenalin, bagaimana saya menaklukan diri sendiri dan menunjukkan, meski saya perempuan, saya mampu bekerja di bidang laki-laki, saya punya value”, tandasnya bersemangat.

Tentu bukan perkara mudah hingga perempuan kelahiran Surabaya, 6 Maret 1974 ini bisa hingga di posisi seperti sekarang. Kuncinya kerja keras, percaya pada nurani, dan integritas. “Kendala pasti ada. Tapi bagaimana kita dapat mem-blending keinginan banyak pihak dan menjadikan yang terbaik. Kepercayaan tumbuh dari siapa diri kita, integritas kita terhadap perusahaan, percaya pada nurani dan apa yang kita lakukan berdasarkan kepada kepentingan perusahaan, maka kepercayaan akan muncul. Saya selalu berdiri di titik tengah untuk bisa melihat semua kepentingan, jangan hanya melihat dari satu sisi, taruh kaki kita di sepatu kedua sisi maka kita akan bisa mengambil keputusan yang fair”, terang Grace berbagi resep kesuksesannya.

Sebagai pemimpin, Grace termasuk keras dalam mendidik anak buah. “Saya termasuk orang yang sedikit dalam memberi arahan pada anak buah. Dari situ sebetulnya saya melihat cara dia berpikir dan bekerja. Dari report-nya nanti kelihatan. Nah, di situlah kemudian kita arahkan bagaimana cara berpikir strategis, efisien, dan logika jalan”, tandas Grace.

Baginya, anak buah harus bisa mengerjakan apa yang ia kerjakan. “Mungkin mereka akan komplain karena saya kok kesannya selalu mendelegasikan pekerjaan. Tapi menurut saya, practice makes perfect. Makin sering mereka melakukan pekerjaan, makin pintar mereka dan makin tahu lika-likunya”, tegasnya.

Si Tomboy yang Mantan Model
Gaya bicaranya yang santai, blak-blakan, ekspresif, apa adanya, khas arek Suroboyo menciptakan kehangatan tersendiri. Suasana begitu cair, tak ada kekakuan di sini. D’sari Magz pun semakin betah berbincang-bincang dengannya. Ditemani secangkir kopi hangat dan kue-kue pastry, kami semakin hanyut dalam obrolan akrab.

Terlahir sebagai anak bungsu dan satu-satunya perempuan dari empat bersaudara ini mengaku tomboy sejak kecil. Apalagi anak mantan perwira Angkatan Laut ini sudah digembleng kedisiplinan ala militer sejak kecil oleh sang Ayah. Ia sudah terbiasa hidup mandiri dan tidak manja. Karena terlalu laki-laki itulah saat SMA orang tua Grace kemudian memasukkannya ke Carrie Models di bawah asuhan Nana Krit. Dari situlah kemudian Grace dipoles menjadi model dan tak lama wajahnya menghiasi halaman majalah remaja ibukota mengusung brand t-shirt H&R sekitar tahun 1990-1991.

Namun sisa-sisa ke-tomboy-an itu masih menempel dalam dirinya hingga kini. Dunia laki-laki tampaknya memang sudah menjadi garis hidupnya. Tengok saja, ia aktif di Ducati Desmo Owner Club (DDOC) tempat sang suami Didi Wiroreno duduk sebagai ketua klub motor balap tersebut. Selain itu, Grace juga pehobi fotografi, golf, dan menyelam. Sementara, yang terbaru dia mulai suka offroad bersama suami di daerah Gunung Batu, dan itu adalah yang pertama kalinya dia jalani..

No Handphone On Weekend
Meski lekat dengan dunia laki-laki dan tomboy, sosok Grace sebagai seorang ibu bagi Dandy dan Anggita layak mendapat acungan jempol. Bagaimana ia membagi waktunya antara karir dan keluarga? “Siang fokus bekerja, pulang pukul 5 sore lalu makan bersama anak-anak. Belajar, baca buku, baru deh me time. Kalau weekend ikut les musik bareng mereka, ke gereja, masak-masakan sama Anggi, atau main apa saja. Yang pasti no handphone on weekend”, ungkapnya sambil tersenyum simpul.

Lalu seperti apa mendidik anak ala Grace? “Mandiri!” sahut Grace cepat.
Ia memang sangat serius memoles kedua buah hatinya untuk bisa mandiri. Sejak usia dini Dandy Wiroreno (10 tahun) dan Anggita Wiroreno (7 tahun) sudah dibiasakan untuk bisa mengurus diri sendiri. Meskipun di rumahnya ada asisten rumah tangga, tetapi tidak serta merta membiarkan buah hatinya kalau membutuhkan sesuatu meminta tolong kepada mbaknya. “Di kepala saya, hal yang utama adalah mandiri, jangan pernah bergantung dengan orang lain, baik dari sisi fisik maupun psikis. Kedua, punya garis hitam putih, mana baik mana buruk secara agama dan secara kehidupan sehari hari, dont hurt people!” tegasnya.

Grace pun tidak pernah menuntut kedua buah hatinya untuk jadi juara. “Saya nggak pernah nuntut anak musti ranking. Kalau anak bisa juara, senang. Tapi saya nggak mau nge-push. Bagi saya yang terpenting logika mereka jalan, kepribadiannya baik, bisa ngambil keputusan, memiliki leadership, serta social life mereka oke,” yakin Grace lagi.

Meditasi dan Banyak Bersyukur
Sebagai manusia biasa Grace tentunya pernah mengalami pasang surut kehidupan. Hidup tak semulus jalan tol bukan? Bagaimana kita melaluinya, itu yang coba d’sari Magz kulik. Grace bercerita, selama ini ia meyakini, bahwa sebagai orang baik yang sudah melakukan semua kebaikan duniawi berhak mendapatkan balasan yang baik. Tapi, rupanya itu persepsi yang salah ketika ia mendapati apa yang terjadi tak sesuai harapan. “Saya salah. Seharusnya saya melakukan kebaikan duniawi untuk mendapatkan balasan surgawi. Surga nggak bisa diperintah dengan mencatatkan kebaikan kita. Lakukan semua dengan ikhlas, maka barulah itu tercatat. Pun jika tak tercatat ya tidak apa-apa. We doing it ‘cause we want to do it,” tuturnya.

Paling penting bagi Grace, jangan terpuruk karena tragedi. Hadapi saja dan percaya bahwa di setiap cobaan pasti ada pelangi di ujungnya. Jalani saja semua dengan ikhlas, jangan mengeluh, dan banyak bersyukur. Kunci ini didapatnya sejak banyak membaca buku Dalai Lama. Ia belajar bermeditasi, mencoba mencari keseimbangan dalam hidup. “Supaya seimbang jiwa dan raga, saya juga olahraga, makan sehat, pola hidup sehat. Membatasi makanan bergula, istirahat cukup, belajar ikhlas dan banyak bersyukur. Tak lupa sebelum tidur malam saya selalu bermeditasi,” urainya berbagi rahasia cantik jiwa raga.

Novelku, Gairahku
Perjalanan kehidupan juga yang menuntun Grace sampai pada titik ia menemukan gairah baru dalam hidupnya. Disinggung mengenai hal itu Grace semakin bersemangat. Penggalan tulisan Grace di blog-nya yang saya kutip di awal tulisan ini adalah cikal bakal ia menulis novel. Iseng-iseng mampirlah ke http://www.gracewiroreno.wordpress.com.

“Padahal dulu saya nggak bisa nulis sama sekali. Pelajaran mengarang itu saya nggak suka. Sampai satu waktu, ketika saya sedang menemani anak ke dokter, di ruang tunggu tiba-tiba saja ada bapak-bapak menepuk pundak saya dan berkata, ‘Kalau kamu lagi sedih, jangan menyakiti diri sendiri. Ambil bantal, tutup wajahmu dan menjeritlah. Atau, kamu nulis!’ Saya tidak mengenal dia, tapi sejak itu saya mulai iseng-iseng nulis di blog. Masalah ringan sehari-hari saja. Eh, sekarang justru jadi novel”, papar Grace.

Di novel yang berjudul “Sebuah Cerita Cinta” ini ia bercerita tentang kehidupan percintaan khas perempuan kota besar masa kini yang high technology, independent, lengkap dengan permasalahan karir, keluarga, dan bumbu perselingkuhan. Perempuan masa kini yang Grace banget! Pengalaman pribadikah? “Enggak kok, novel ini bukan pengalaman pribadi. Ini jalan cerita yang saya ambil dari teman-teman sekitar saja. Sama sekali nggak ada pengalaman pribadi. Tapi, kalau latar belakang lokasinya beberapa ada yang saya ambil dari pengalaman hidup saya”, elak Grace.
Belakangan, ia bahkan mulai sibuk menyiapkan novel keduanya. Hmm, Grace yang tomboy kini menjelma menjadi novelis. [Anandita Rahma]

Biodata
Nama Lengkap : Grace Paramita Wiroreno
Tempat & Tanggal Lahir : Surabaya, 6 Maret 1974
Nama Suami : Didi Wiroreno
Nama Anak : Dandy SyailendraWiroreno (10 tahun)
: Anggita Ayodya Wiroreno (7 tahun)
Nama Ayah : Kolonel (Purn) TNI AL M A Sediono
Nama Ibu : M. Cecilia Vijajanti
Hobby : Menyelam, golf, fotografi, menulis
Film Favorit : Legend of The Fall
Musik Favorit : Jazz, New Age, Klasik
Makanan Favorit : Anything with corn
Pendidikan Formal:
Business Administration, IBMEC Singapore (1999)
Diploma Public Relations , Interstudi Jakarta
Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen, Universitas Gunadarma (4 semester)
Pendidikan Non Formal:
Business English, San Diego State University
Marketing Research, University of San Diego

Profesi:
Head of Corporate Relations and Communication PT Medco Power Indonesia (2009-sekarang)
General Manager PT Medco Gajendra Power Services (2008-2009)
Business Development Leader PT Medco Gajendra Power Services (2007-2008)
Project Commercial Specialist PT Medco Power Indonesia (2007)
Konsultan Pengembangan Bisnis PT Indomedco Power (2007)
Direktur Pengembangan Bisnis PT Dinamika Daya Persada (2003-2004)
Corporate Communications PT Energyworks (1998)
Konsultan Pengembangan Bisnis PT Kwartadaya Dirganusa (1998)
Sales Engineer PT Kwartadaya Dirganusa (1994-1995)
Government Relations Officer PT Imeco Inter Sarana (1993-1994)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: