Posted by: Grace Paramita | July 13, 2009

kawan raganya

Menutup mata dan menutup raga atas banyangan duniawi
Menbuka mata ketiga dan melihat apa yang di kerjakan di seberang sana
Berjalan bergandengan dengan belahan jiwa menjadi janggal
Berjalan bergandengan dengan cinta dirinya menjadi mahal

Ia berjalan pelan dibelakang semua orang
Ia juga berjalan perlahan di belakang semua orang
Keduanya seakan membayangkan seorang yagn tidak asing berjalan di sampingnya
Menggenggam tangan dan jemarinya
Ia menengok dan semau hanya fatamorgana

Batinnya memanggil cinta
Jiwanya berjalan berkeliaran demi mencarinya
Ia tak bisa menemukannya
Cinta nya sedang bersembunyi didalam jiwa yagn lain

Ia menggapai
Ia melambai
Ia tak tersentuh

Jiwa dan raga itu menyatu dalam bayangan malam
Jiwa itu tidak bisa memanggil cintanya
Jiwa itu tidak kecewa
Karena memang sudah seperti itu jalannya
Sampai tangan keriput memegang tongkat dan ikrar cinta tidak akan pernah hilang

Karena cinta mereka bukan cinta anak sekarang
Cinta mereka sudah ada disana semenjak 20 tahun yagn lalu dan masih akan ada sampai tanah dan bunga menjadi kawan raganya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: