Posted by: Grace Paramita | June 25, 2009

seize your moment or it passed

Seize the moment…or it passed!
By Anthony Dio Martin

Seorang ayah sedang sibuk mengerjakan tulisan-tulisan proposalnya. Lalu, ia memandang ke jendela. Diluar, ia menyaksikan pelangi yang begitu indah membentang menghiasi separuh cakrawala di depan matanya memandang. Ia ingat baru saja, hujan berlalu. Ia berpikir, “alangkah bagusnya. Akan saya tunjukkan kepada anakku nanti, setelah saya menyelesaikan beberapa paragraf terakhir ini”. Setelah selesai, ia segera bangkit dan ingin memanggil anaknya. Tapi, apa yang terjadi? Pelanginya telah lenyap. Si ayah ini pun kecewa.

Beberapa waktu berselang, kali ini seperti biasa, si ayah ini kembali sedang bekerja di depan komputernya. Sore itu, ia memandang lagi keluar jendelanya. Apa yang dilihatnya? Sebuah pelangi yang membentang dengan begitu indahnya. Kali ini, ia tidak mau lagi kehilangan momentnya. Ia segera berlari menuju ke tempat anaknya bermain dan segera memboyongnya ke kursi kerjanya. Lalu, dengan kagum dan takjub ia menunjukkan kepada anaknya pemandangan pelangi yang luar biasa itu. “Nak, lihat! Pelangi yang begitu indahnya!” Bertahun-tahun berlalu. Ketika si anak telah besar, ada suatu kalimat yang ia ucapkan pada ayahnya, “Ayah. Saya ingat sekali waktu memandang pelangi yang indah bersama ayah. Saya itu saya dipangku ayah. Tak bisa saya lupakan momen itu!”

Carpe Diem Kalimat ini menjadi begitu popular, saat film Robbin William yang terkenal “Dead Poet Society” beredar. Ada sebuah kalimat pendek yang diulang-ulang selama film yang lura biasa ini diputer, “Carpe diem…carpe diem!” yang diterjemahkan dengan mudah “seize the day…”. Dan dalam bahasa Indonesia, terjemahannya menjadi lebih panjang, “Gunakan waktu/momen yang ada!”. Memang agak sulit diterjemahkan. Tetapi maknanya betul-betul luar biasa.Seperti kisah diatas, saya teringat sewaktu mendapatkan nasihat, “Anak itu bertumbuh dengan cepat sekali. Sewaktu ia masih kecil gunakan waktu dengan mereka sebaik-baiknya. Saat mereka sudah besar, mereka tidak akan membutuhkan kita lagi”. Kesaksian inilah yang sekarang, selalu menguatkan saya untuk memberikan waktu dan meluangkan waktu, sesibuk apapun, bagi anak-anak. Kalimat ini selalu terngiang-ngiang di kepala saya, “Saat mereka dewasa, mereka mungkin tidak akan membutuhkanmu lagi”. Antara Kerja dan KeluargaTerkadang, saat dihadapkan pada pilihan antara keluarga dan kerja, pilihannya tidaklah mudah. Banyak orang seringkali mengeluh bagaimana ia merasa sangat mustahil untuk bisa memprioritaskan waktu untuk keluarga dan kerja serta sukses di kedua-duanya.

Disinilah nilai-nilai kita diperbandingkan. Fokus pada karir, promosi, kenaikan salary atau insentif dengan risiko keluarga jadi dikorbankan. Atau fokus pada keluarga, dengan risiko pekerjaan menjadi tidak terlalu optimal.
Memang, selalu saja ada yang mengaku bahwa mereka bisa menyeimbangkan antara keluarga dan kerja dengan begitu baiknya sehingga tidak ada masalah. Tapi, benarkah? Kali ini, kita bicara bukan soal argumentasi dan show off untuk mengatakan kepada dunia bahwa “saya bisa kok menyeimbangkan keluarga dan kerja”. Karena biasanya, mereka yang berteriak paling kencang, justru seringkali melanggarnya. Saya jadi teringat dengan seorang pebisnis yang juga seorang yang juga banyak menghabiskan waktunya di pelayanan kerohanian. Ia mengatakan kepada dunia dalam berbagai kesempatan, sambil memeluk anaknya, bahwa ia mampu menyeimbangkan keluarga dan kerjanya dengan baik. Tetapi, ketika anaknya diberikan konseling, anaknya justru merasa sangat terabaikan dan sangat haus akan perhatian yang tidak diperolehnya secara cukup. Soal keseimbangan keluarga dan kerja ini, bukanlah soal pengakuan atau soal persepsi dari orang lain. Bahkan, persepsi orang lain tidaklah terlalui penting. Orang lain bisa saja melihat dan berpersepsi bahwa keluarga Anda hebat dan luar biasa seimbangnya, tetapi bisa jadi dalam kenyataannya keluarga Anda sebenarnya sedang di atas bom waktu.

Karena yang penting dalam ukuran ini adalah soal bagaimana keluarga kita memberikan persepsi kepada kita. Ini adalah soal pengakuan yang jujur dari mereka. Beberapa kali, saya terlibat dalam pekerjaan memberikan konseling pada keluarga dan anak yang bermasalah. Betapa berbedanya persepsi yang muncul. Beberapa orang tua merasa telah memberikan waktu yang cukup bagi keluarganya. Tetapi, justru anaknya berpikir, masalahnya justru karena orang tuanya tidak pernah meluangkan waktu bagi mereka. Gagalnya Quality TimeBerbagai penelitian menunjukkan bahwa quality time adalah sebuah mitos.

Mitos yang diciptakan oleh mereka yang sibuk untuk menghibur dirinya dari perasaan bersalah. Kenyataannya, quality time tidaklah mampu menggantikan waktu bersama-sama yang sesungguhnya. Quality time adalah konsep pekerjaan dimana berlaku hukum efisiensi. Sedikit, tapi produktivitasnya banyak. Itu adalah hokum yang berlaku untuk mesin. Tetapi, kita berhadapan dengan manusia dimana tidak bisa diperlakukan dengan hukum-hukum efisiensi. Salah satu cara yang harus dipertimbangkan adalah kembali kepada kisah ilustrasi kita yang pertama soal si ayah dengan pelanginya. Ada momen-momen bersama dengan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan dan ditunda. Mungkin, dengan demikian, laju pekerjaan kita jadi sedikit harus tersendat lantaran diberikan untuk keluarga. Namun, itulah risiko yang diambil dengan sebuah kesadaran. Sebab jika tidak, mungkin akan terlambat.

Liburan Sudah TibaTulisan ini dibuat ditengah liburan anak sekolah. Mungkin inilah saatnya untuk menunjukkan komitmen kita pada keluarga. Saat dimana, pekerjaan kita akan sedikit terhambat dan tidak melaju seperti biasanya. Akan selalu ada keinginan untuk mengatakan, “Ah…tanggung sekali, ini masih ada pekerjaan yang nyaris mau selesai. Nanti saja”. Ingatlah, saat ketika kita punya waktu, mungkin waktunya akan sedikit terlambat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: